02 September 2007

Strategi Hidup Muslim di Akhir Zaman

Buku-buku bertema akhir zaman kini sedang booming.
Temanya mencakup: Dajjal, Armageddon, dan Zionisme.
Fenomena di atas merupakan fenomena global. Di Timur
Tengah dan juga Eropa serta Amerika, orang juga kini
gandrung pada tema akhir zaman. Nampaknya ini bukan
suatu kebetulan, meski perbantahan ada di antara masingmasing
penulis, tapi semua sepakat pada satu muara: Kita
hidup di akhir zaman.

Menurut Ust Abu Fatiah Al-Adnani, spesialis penulis buku-buku tentang akhir zaman,
pada prinsipnya pada buku-buku itu di sana ada kebaikan walau tak tertutup ada
kesalahan. "Saya yang termasuk agak terinspirasi dengan buku-buku seperti itu. Kita
perlu meluruskan mana yang perlu dikonsumsi dan mana yang mendapat catatan.
Terutama hadits-hadits dhoif yang hampir semuanya dijadikan rujukan, " katanya
ketika ditanya eramuslim. Com seusai roadshow bedah buku “Kaki Tangan Dajjal
Mencengkeram Indonesia” (26/8) Masjid Al-Amin Secang, Magelang, Jawa Tengah.
Fitnah Dajjal memang luar biasa, sebagaimana Rasul saw mengabarkan:
"Sesungguhnya sebelum terjadinya hari kiamat, akan timbul berbagai fitnah
bagaikan sepotong malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seseorang masih
beriman, tetapi pada sore harinya telah menjadi kafir. Pada sore harinya beriman,
tetapi pada pagi harinya telah kafir. Pada saat itu orang yang duduk lebih baik
daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, dan yang berjalan
lebih baik dari yang berlari. Karena itu pecahkanlah kekerasanmu, potonglah tali
busurmu dan pukulkanlah pedangmu ke batu (yakni jangan kamu gunakan untuk
memukul dan membunuh manusia). Jika salah seorang di antara kamu terlibat dalam
urusan (fitnah) itu, maka hendaklah ia bersikap seperti sikap terbaik dari dua orang
putra Adam (yakni bersikap seperti Habil, jangan seperti Qabil). " Musnad Ahmad
4:408 hadits ini juga dishahihkan oleh Al-Bani dalam Shahih Al-jamius Shagir 2:193
hadit nomor 2045.

Orang yang duduk lebih baik dari yang berdiri, Menurut Abu Fatiah Al-Adnani,
mereka yang semakin sedikit itu lebih aman. Dirinya mengambil contoh sekarang saja
ketika kalau keluar rumah kemaksiatan mengepung. Jangankan keluar rumah, di
dalam rumah saja begitu kita menyetel tv, iman kota bisa rontok. "Orang yang tinggal
di rumahnya yang terletak pegunungan sehingga jauh dari keramaian, fitnahnya relatif
jauh lebih sedikit, " jelasnya.

Pun ketika Rasul ditanya, manusia mana yang terbaik. Rasulullah saw menjawab,
Muminun yujahidu binafsihi wa maalihi . Orang mukmin yang berjihad dengan harta
dan jiwanya. Kemudian siapa lagi? Yakni, orang mukmin yang tinggal di puncakpuncak
gunung, yang dia meninggalkan manusia, kemudian dia konsentrasi ibadah
kepada Allah. Jadi manusia terbaik di akhir zaman cuma dua. Kalau dia punya
kemampuan bergaul dengan manusia dia punya kemampuan amar makruf nahy
munkar, silakan mencampur. Tapi, kalau tidak kuat, silakan ke puncak gunung.
Karena kalau juru dakwah beruzlah, itu bahaya. Tapi, kalau cuma sipil, rakyat biasa,
maka jangan tinggal di tempat-tempat yang mengundang fitnah. Resikonya lebih
besar.

Dirinya menyarankan, kalau kita tidak punya kemampuan sedangkan resikonya terlalu
besar, lebih baik pulang kampung. Daripada di perkotaan tapi rezekinya tidak halal.
Tanya saja kepada mereka yang terlibat prostitusi, "Mas sudah kadung basah, di
rumah juga siapa yang menghargai. Saya sudah terlanjur hitam, " itukan jawabannya.
Bagaimana solusinya. Menurut Abu Fatiah Al-Adnani, jika berbicara tentang dajjal,
baik itu secara fisik, maupun fitnah, Rasul memberikan rambu-rambu:
Pertama, Rajin membaca doa setiap kali shalat. Yang lebih penting dengan memaknai
doa tersebut. Allahuma inni a'udzubika min adzabi jahannama wa min adzabi qabri
wa min fitnatil mahyaa wa mamaati wa min syarri fitnatil masiihid dajjal. (Shahih
Muslim)

Kedua, siapa yang membaca 10 ayat pertama surat Al-Kahfi, dia akan diselamatkan
dari Dajjal. Kita disunnahkan untuk membaca surat Kahfi setiap malam Jumat. Yang
biasa Yaasinan boleh diganti. Karena dalilnya jelas. Kalau seseorang membaca surat
Kahfi setiap malam Jumat, maka Allah akan sinari dia dengan cahaya. Kalau kita
hafal maka enak, tidak perlu buka Al-Qur'an lagi. Ada yang menyebut 10 ayat
pertama ada yang menyebut 10 ayat terakhir. Tapi yang terkuat adalah sepuluh ayat
yang pertama. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.

Ketiga, Kalau sanggup, pindah ke kota Madinah. Karena di sana nanti akan menjadi
pusat keimanan. Kalau tidak, kata Rasul saw—lari ke gunung-gunung. Maknanya ada
dua, satu, gunung betulan, karena jauh dari perkotaan. Yang relatif jauh dari fitnah.
Kedua, kita adakan sistem masyarakat, kita bikin semacam Islamic Village. Satu
kompleks muslim semua, shalat semua. Jadi masyarakat umum, gaya hidupnya
pesantren, suasananya Islami. Anak-anak dan isterinya terjaga dari fitnah. Dengan
begitu kita berharap anak-anak kita akan lebih terjaga.

Keempat, kalau semua usaha sudah dicoba, ternyata dikejar-kejar Dajjal juga. Sudah
baca doa masih kena, lari ke gunung masih dikejar, sudah hafal surat kahfi, masih
tidak mempan. Dajjal menawarkan air dari sungainya dan disodorkan kepada kita
apinya dengan nyata, maka Rasul saw mengajarkan. Tutuplah kedua matamu dan
masuklah ke apinya dajjal, sesungguhnya apinya dajjal itu akan dingin. Sedangkan
sungainya justru neraka yang membakar.

Tapi, kita sekarang ini sudah terkena budaya materialisme, apa yang kita lihat tentulah
yang kita yakini. Kita tidak bisa meyakini apa sesungguhnya di belakang api itu. Kita
melihat api itu panas, tapi kalau nekat akan dingin. Ini beberapa solusi yang diberikan
oleh Rasulullah saw. ( Disadur dari www.eramuslim.com )

Tidak ada komentar: