13 September 2007

Berbuka Puasa dengan Daging Bayi Palestina

Oleh Rizki Ridyasmara

Bulan Ramadhan 1428H telah menginjak hari kedua. Di hari pertama kemarin, saya melihat banyak Muslim Indonesia berbuka sambil memakan daging bayi-bayi Palestina. Mereka juga banyak yang berbuka dengan minum darah bayi-bayi dan anak-anak Palestina.

Sore kemarin, banyak dari saudara-saudara kita yang berbuka puasa di gerai-gerai restoran makanan cepat saji (junk food) Amerika. Kita tahu sendirilah siapa saja gerai-gerai itu. Begitu adzan Maghrib bergema, dengan khusyuk mereka berdoa dan setelah itu dengan senyum mengembang mereka mulai mengambil hamburger berisi sayatan-sayatan kecil daging-daging bayi Palestina dan memakannya. Di meja mereka juga ada gelas-gelas plastik berisi darah bayi-bayi Palestina, dengan ditambahi batu es berbentuk kotak-kotak kecil. Alangkah nikmatnya mereka menyantap itu semua. Ini kejadian sungguhan!

Tahukah Anda bahwa semua ini adalah fakta sesungguhnya? Bukan terjadi di negeri dongeng atau pun di republik mimpi. Tahukah kita jika kita membeli makanan-makanan junk-food terkenal dari Amerika itu, membeli soft-dring terkenal produk Amerika itu, kita sesungguhnya tengah membeli daging dan darah bayi-bayi Palestina untuk kita konsumsi? Siapa pun Anda, jika Anda melakukan itu, maka Anda adalah seorang kanibal. Berkahkah berpuasa dengan melakukan itu semua? Jawab sendiri.

Bulan November 2000 lalu Dr. Yusuf Qaradhawy telah mengeluarkan fatwa boikot pembelian produk-produk yang nyata-nyata telah membantu eksistensi Zionis-Israel. Jika kita membeli produk-produk itu, maka kita sungguh telah ikut membunuh bayi-bayi dan anak-anak Palestina. Lantas, produk-produk apa saja yang seperti itu dan diharamkan bagi umat Islam membelinya? Klik saja di www.inminds.co.uk. Di situs itu kita bisa melihat secara lengkap, berikut bukti-bukti tidak terbantahkan, bahwa perusahaan-perusahaan yang mengeluarkan produk-produk tersebut aktif membantu eksistensi Zionis-Israel.

Saudaraku, hentikan kebiasaan berbuka puasa dengan meminum darah bayi-bayi Palestina. Hentikan berbuka puasa dengan mengkonsumsi daging bayi-bayi Palestina. Jika Anda, siapa pun juga, masih saja mengabaikan hal ini, maka Anda—mengakui atau tidak—telah menjadi sahabat bagi Zionis-Israel dan menjadi musuh bagi perjuangan menegakkan Islam. Silakan pilih. Toh, nanti kita akan mempertanggungjawabkannya sendiri-sendiri di yaumil akhir kelak.

05 September 2007

Para Jundi Cilik Negeri Sakura

Oleh Lizsa Anggraeny

Namanya Ibrahim, berumur kira-kira 4 tahun. Lahir dari pasangan muslim Pakistan dan muslimah Jepang. Jika ditanya cita-cita "Kalau sudah besar mau jadi apa?" Jawaban tegasnya selalu membuat bulu tangan berdiri. "Okikunattara Masjidil Haram no Imam ni naritai ! (Kalau sudah besar pengen jadi Imam di Masjidil Haram!). " Di usianya yang masih belia, Ibrahim hapal hampir seluruh juz ke-30 Al-Quran. Sebuah prestasi yang menggembirakan bagi seorang anak yang dididik dalam lingkungan negeri yang tidak mengenal agama seperti Jepang.

Namanya Ismail, berumur sekitar 4 atau 5 tahun. Lahir daripasangan muslim Afrika dan muslimah Jepang. Jika ditanya tentang cita-cita, jawabannya akan polos terdengar. "Okikunattara suika ni naritai (Kalau sudah besar ingin jadi buah semangka)" Jawaban khas anak kecil yang mungkin akan membuat orang dewasa tersenyum geli. Namun tidak begitu jika ditanya "Ismail orang mana?" Sosok kecilnya akan tegas menjawab "Boku wa Isuramu jin da yo (Aku orang Islam). " Sosok kecil Ismail mungkin belum mengenal nama-nama negara di dunia, yang ia tahu hanyalah kebangaan menjadi orang Islam – seorang anak muslim yang lahir di negeri sakura.

Tidak hanya Ibrahim dan Ismail, ada si kecil yang bernama Aisha, Nurjanah, Sahar, Samar, Hasan, Jibril, Thalhahserta beberapa jundi cilik lainnya yang tinggal di negeri sakura. Umumnya mereka terlahir dari pasangan campuran muslim asing dengan muslim Jepang. Tidak seperti anak-anak muslim di Indonesia, mungkin mereka jarang sekali mendengarkan adzan di masjid, tidak bisa sering berkumpul dengan sesama anak muslim lainnya, sulit mendapatkan buku cerita anak tentang Islam serta kurang memiliki lingkungan kondusif untuk belajar agama.

Dengan kondisi seperti ini, tidak salah jika para orang tua mereka begitu giat ingin menanamkan jiwa mencintai Allah dan Rasulullah saw sejak masih dalam buaian. Setiap dua pekan sekali ataupun dalam acara khusus, saya memiliki kesempatan bertemu dengan para jundi ini di sebuah masjid di sekitar kawasan Tokyo. Jarak perjalanan yang jauh sepertinya tidak menjadi halangan. Semata semua dilakukan untuk menambah 'charge' ruhaninya tentang Islam.

Dalam keterbatasan waktu dan ruang, para jundi cilik ini tetap memiliki semangat. Mengikuti dengan mimik serius setiap mendengarkan cerita shirah nabawi ataupun sahabat, tertawa-tawa riang ketika diajarkan huruf hijaiyah dengan permainan kotak dadu, serta kadang terbata-bata berusaha menghapalkan setiap untaian ayat, surat-surat ataupun doa-doa pendek yang dilantunkan bersama di antara kelincahannya sebagai anak-anak. Tak berlebihan rasanya, jika melihat sosok mungilnya yang ceria dengan semangat menyala, ingatan saya selalu melompat pada beberapa cerita tentang para pahlawan cilik di masa Rasulullah saw.

Rafi bin Khudaij pemanah cilik ulung yang pernah ikut dalam jihad di Uhud. Zaid bin Tsabit dalam usianya yang masih belia, diberi kehormatan membawa bendera pasukan muslim saat perang Tabuk karena memiliki hapalan Qur`an yang baik. Salamah bin Akwa yang tekenal sebagai pelari cilik tercepat hingga dapat menahan para perampok unta-unta Rasulullah saw dengan teknik berlarinya. Aisyah binti As-Shiddiq gadis cilik cerdas banyak mengetahui tentang Al-Qur`an, hadits, ataupun syair. Pahlawan cilik yang dalam usia belia, begitu bangga dengan izzah sebagai muslim. Dengan gagah berani membela Islam. Memerangi kezaliman dengan kecerdasan dan keahlian, meski terkadang musuh yang dihadang lebih besar daripada badanya.

Para jundi negeri sakura, mungkin belum tahu tentang cerita kehebatan para pahlawan cilik di atas. Dan mungkin pula kehebatan para jundi negeri sakura belum sebanding dengan para pahlawan cilik di zaman Rasulullah saw. Namun tak berlebihan jika para orang tua termasuk saya, memiliki harapan yang sama. Bahwa para jundi cilik tersebut suatu saat akan menjadi pahlawan pembela Islam di negeri sakura. Dalam jiwa kecilnya, akan tumbuh kebanggaan menjadi seorang muslim. Dapat gagah berani membela Islam. Memiliki sikap tegas berjuang melawan kezaliman berupa serangan pemikiran barat. Tidak terimbas oleh lingkungan sekuler yang siap menghancurkan mutiara imannya.

Perlahan tapi pasti, jundi-jundi cilik di negeri sakura akan tumbuh menjadi generasi yang berjiwa kuat seperti para pahlawan cilik di zaman Rasulullah saw. Mereka akan menjadipenegak panji Allah swt. Yang selalu bangga mengatakan "Saya adalah muslim. " Yang dapat meluaskan syiar Islam hingga semakin menyebar dan kokoh tegak di bumi sakura. Insya Allah.

Yakumo -Sepenggal catatan aishliz et FLP Jepang -

Kenaikan Harga Menjelang Bulan Ramadhan

Oleh Atmonadi

Tiap tahun, bulan Ramadhan menjadi istimewa bagi Umat Islam. Baik, yang Islam beneran maupun Islam-Islaman, kedatangan bulan Ramadhan memang menjadi penuh harap dengan barokah ampunan Allah SWT.

Tapi, ada satu fenomena yang menurut saya selalu hadir juga ketika Ramadhan tiba. Tapi, sayangnya fenomena ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan berkah bulan Ramadhan. Bahkan, bagi yang benar-benar sering membaca al-Qur’an fenomena yang mengiringi kedatangan bulan Ramadhan ini sebenarnya fenomena yang patut dilaknati. Fenomena itu disebut “Kenaikan Harga”.

Benar kan, sejak saya kecil sampai hari ini, fenomena kenaikan harga dadakan ini muncul menjelang bulan Ramadhan. Seringkali kedatangan isyarat kalau harga-harga bakal naik ini sudah jauh-auh hari diulas di media masa, diungkapkan oleh pemerintah dan tentunya disebelin oleh masyakat kebanyakan. Itu baru dari sisi harga kebutuhan bahan makanan. Belum lagi kenaikan biaya transportasi yang menjelang akhir bulan Ramadhan bisa melonjak gila-gilaan. Walhasil, bagi yang mau berlebaran di kampung dengan uang pas-pasan kenaikan biaya transpor ini bisa menyebabkan kantong benar-benar terkuras. Apalagi kalau pulang sekeluarga.

Dulu, di kampung saya di kota Cirebon, kenaikan harga ini selalu ditangkis oleh para pedagang dengan alasan “mremaan”. Dalam bahasa Cirebon, “mremaan” mungkin dapat diartikan sebagai “mumpung ada kesempatan”. Entah wangsit darimana yang muncul di kepala para pedagang, tiap bulan Ramadhan mereka berasumsi secara kompak “kalau bulan Ramadhan orang-orang pastilah punya banyak uang”. Mungkin juga, ini pengaruh gaji ke-13 alias uang Tunjangan Hari Raya (THR). Jadi, seolah-olah mumpung ada kesempatan orang gajian dapat gaji 2 kali lipat, naikkan saja harga barang jualannya. Itung-itung ikut-ikutan ngalap berkah THR Jadi, THR yang mestinya berkah bagi orang gajian nampaknya diikuti oleh semacam aura sial bilangan 13 yaitu kenaikan harga barang dan transportasi.

Para pedagang profesional maupun pedagang dadakan (yaitu yang berdagang hanya di bulan Ramadhan saja) akhirnya memang mengikuti pola menaikkan harga dengan alasan yang sama seperti teori domino. Kalau di sana naik, di sini juga mestinya naik. Alasan klasik itu tetap berlaku. Alasan klasik kenaikan juga masih sama “habis yang lainnya naik sih”. Di mana-mana memang naik. Bagi orang Indonesia, hal ini memang sulit dicegah, sampai-sampai dianggap sudah biasa.

Menaikkan harga secara semena-mena sebenarnya bagian dari apa yang disebut al-Qur’an sebagai akhlak pedagang yang curang. Pedagang model begini, di zaman dulu dinisbahkan kepada kaum Yahudi yang memang menguasai perdagangan. Kecurangan yang dimaksud al-Qur'an dalam jual belaisebenarnyabukan sekedar kecurangan dalam hal timbang menimbang berat. Namun, sejak uang dijadikan ukuran jual beli, "naik-turunnya harga barang juga merupakan timbangan” yang mewakili nilai barang yang dijual belikan. Jadi, menaikkan harga sebenarnya serupa benar dengan mengubah-ubah timbangan.

Islam lahir di masa perdagangan komoditas sudah menjadi bagian dari perekonomian umat manusia. Karena itu, profesi perdagangan merupakan pekerjaan yang berpeluang mendatangkan kemakmuran. Nabi Muhammad SAW sendiri sejak kecil sudah ikut berdagang. Jadi, sedikit banyak ketika ditegaskan dalam Al-Qur’an kalau banyak pedagang yang curang, baik secara sembunyi-sembunyi dengan menggunakan timbangan yang suka diubah-ubah beratnya, ataupun menaikkan harga seenaknya, hal itu berhubungan dengan pengalaman dagang Nabi yang melihat para pedagang umumnya bisa berbuat curang seenaknya. Nabi Muhamad SAW sendiri dikenal sebagai pedagang yang jujur sampai akhirnya digelari al-Amin dan disunting oleh Saudagar Wanita yang kaya, yang tidak lain adalah bosnya sendiri yaitu Khadijah.

Pedagang yang curang, dari sudut pandang etis dan moral manapun merupakan perbuatan tercela. Para pedagang sebenarnya mempunyai independensi pendapatan dibandingkan dengan pegawai pemerintah atau karyawan swasta. Karena itu, pedagang sebenarnya berpeluang bebas dari kekotoran suap menyuap, mark-up, ataupun perbuatan tercela lainnya. Namun godaan untuk meraup untung besar dalam waktu singkat seringkali melupakan para pedagang. Ketika akhirnya ia tergoda untuk berbuat curang, baik dengan menaikkan harga atau menggunakan timbangan yang tidak adil, maka amaliah dari jual belinya menjadi ternoda. Bahkan boleh jadi proses jual belinya menjadi haram.

Kalau sampai di titik kesimpulan seperti ini saya biasanya merasa kasihan pada para pedagang yang suka menaikkan harga seenaknya. Rasa kasihan itu semakin menjadi-jadi kalau membayangkan seluruh keluarga si pedagang bagaikan diberi makan arang bara jahanam. Ramadhan yang mestinya penuh berkah pun malah bisa menjadi penuh dosa hanya karena keuntungan sesaat yang tidak langgeng. Ramadhan yang mestinya disyukuri pun menjadi penuh kesia-siaan karena lumpur kehinaan dengan ketidakadilan yang dilakukan oleh pedagang yang lalai, lupa, serakah, tamak dan loba yang mengabaikan nilai-nilai agama yang benar.

Jadi, jika Anda hari ini berprofesi sebagai pedagang, harap diingat saja jangan sampai dagangan Anda yang halal secara fisik menjadi haram karena proses jual beli yang cacat dengan berbuat curang. Kalau Anda terjebak pada dilema ini maka hati-hati saja, siapa tahu yang tadinya dikira untung malah menjadi buntung. Yang tadinya dikira mendapat berkah tidak tahunya menjadi bahan baku yang membawa Anda memasuki jalan yang dimurkai Allah. Naudzu billah min dzalik, mudah-mudahan, dalam kegiatan apapun kita selalu sadar dan tidak ikut-ikutan gelap matahati menjadi golongan orang yang berbuat curang. Kenaikan harga yang selalu mengiringi bulan Ramadhan bagaikan setan yang selalu mengintip dan menguntit untuk menyesatkan semua niat baik di bulan yang penuh berkah ini. Jadi, waspadlah jika Anda pedagang, jangan terkecoh dengan permainan kenaikan harga ini.

04 September 2007

DOA UNTUK PARA PERAMPOK RAKYAT

Kali Ana ga copy paste dari situs lain, melainkan murni dari suara lubuk hati yang paling dalam, suara hati dari seorang rakyat biasa, suara hati dari seorang hamba Allah yang lemah ini.

Setelah mengetahui bahwa Pertamina menghendaki konversi minyak tanah ke gas, setelah mengetahui harga minyak tanah kian hari kian naik, barulah Ana merasakan betapa susahnya hidup ini.

Ana merasa terjajah di tanah air ini. Betapa tidak, setiap hari duit Ana terus dirampok oleh para elit politik yang menguasai negeri ini, yang duduk dalam berbagai pemerintahan. Ana tidak tahu siapa otak semua ini, hanya Allah Yang Maha Tahu, namun Ana selalu berharap semoga Allah segera menghukum mereka-mereka yang nyata-nyata berbuat jahat kepada diri Ana dan kepada seluruh rakyat umumnya. Ya Allah, kumohon dengan sangat, kabulkanlah permohonan hambaMu ini!!!

Mereka semua adalah perampok rakyat.
Mereka semua adalah perampok rakyat.
Mereka semua adalah perampok rakyat.

Sebentar lagi memasuki Ramadhan. Ana berharap, Ana bisa melaksanakan semua ibadah ikhlas hanya untuk Allah. Di saat itu, Ana ingin sekali bermunajat setiap saat hari, dan ingin rasanya kutumpahkan isi hati Ana, dan dengan penuh harapan semoga Allah memperkenankan permohonan hambaNya yang lemah ini.

YA ALLAH, TOLONGLAH KAMI. HUKUMLAH MEREKA SEMUA YANG BERBUAT JAHAT KEPADA KAMI, YANG SELALU MERAMPOK UANG KAMI. MEREKA SEMUA YA ALLAH, BAIK ITU PRESIDEN NEGERI INI DENGAN PARA MENTERINYA, BAIK ITU PARA WAKIL RAKYAT YANG TIDAK PEDULI DENGAN KEADAAN KAMI, MAUPUN PARA PENGUSAHA YANG MENGUASAI BERBAGAI SEKTOR KEHIDUPAN YANG SELALU MEMPERKAYA DIRI SENDIRI.

YA ALLAH, KABULKANLAH PERMOHONAN DARI SEORANG HAMBA YANG MERASA TERZHALIMI OLEH MEREKA. SESUNGGUHNYA ALLAH MAHA PERKASA LAGI MAHA BIJAKSANA.

TADARUS

Istilah tadarus Al-Quran sebenarnya agak berbeda antara bentuk yang kita saksikan sehari-hari denganmakna bahasanya. Tadarus atau tadarusan biasanya berbentuk sebuah majelis di mana para pesertanya membaca Al-Quran bergantian. Satu orang membaca dan yang lain menyimak. Dan umumnya dilaksanakan di masjid atau mushalla di malam-malam bulan Ramadhan.

Padahal kata tadarus berasal dari asal kata darasa yadrusu, yang artinya mempelajari, meneliti, menelaah, mengkaji dan mengambil pelajaran. Lalu ketambahan huruf ta' di depannya sehingga menjadi tadarasa yatadarasu, makamaknanya bertambah menjadisaling belajar, atau mempelajari secara lebih mendalam.

Adapun kegiatan 'tadarusan' yang kita lihat sehari-hari di negeri kita ini, sepertinya nyaris tanpa pengkajian makna tiap ayat, yang ada hanya sekedar membaca saja. Bahkan terkadang benar dan tidaknya bacaan itu, tidak terjamin. Karena tidak ada ustadz' yang ahli di bidang membaca Al-Quran.

Bentuk tadarusan seperti itu lebih tepat menggunakan istilah tilawah wal istima'. Kata tilawah berarti membaca, dan kata istima' berasal dari katasami'a yasma'u, yang berarti mendengar.

Membaca Al-Quran

Kalau para peserta sudah fasih dan menguasai teknik membaca Al-Quran yang baik, maka tidak mengapa bila masing-masing membaca sendiri-sendiri. Kalaupun mau disima' (didengarkan) juga tidak mengapa. Karena membaca dan mendengar sama-sama mendatangkan pahala.

Allah SWT telah memerintahkan kita selain untuk membaca, juga mendengarkan Al-Quran.

Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat .(QS. Al-A'rah: 204)

Namun apabila para seperti masih lemah bacaannya, sebaiknya mereka tidak dilepas membaca Al-Quran sendirian. Perlu ada ustadz yang membetulkan bacaannya. Sehingga yang perlu dilakukan bukan 'tadarusan', tetapi belajar membaca Al-Quran. Atau istilah yang sekarang populer adalah tahsin Al-Quran atau tahsin tilawah. Tahsin artinya membaguskan bacaan.

Tentu saja harus ada ustadz yang ahli dalam membaca Al-Quran. Dan tidak boleh seseorang dibiarkan membaca dengan salah baik makhraj maupun tajiwidnya. Mereka harus didampingi oleh yang sudah baik bacaannya, dibimbing dan dibenahi bacaannya dengan baik.

Tadarus di Masa Nabi

Tadarus dalam arti yang sebenarnya, yaitu mempelajari isi dan kandungan al-Quran di masa nabi SAW adalah dengan cara mempelajari beberapa ayat, setelah mendalam dan mengerti, baru diteruskan lagi beberapa ayat.

Dari Ibnu Mas’ud ra berkata: “Adalah seorang dari kami jika telah mempelajari 10 ayat maka ia tidak menambahnya sampai ia mengetahui maknanya dan mengamalkannya

Hadits ini di-shahih-kan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam tahqiq-nya atas tafsir At-Thabari (I/80).

Bahwa mereka yang menerima bacaan dari Nabi SAW(menceritakan) adalah mereka apabila mempelajari 10 ayat tidak pernah meninggalkannya (tidak menambahnya) sebelum mengaplikasikan apa yang dikandungnya, maka kami mempelajari ilmu Al-Qur’an dan amalnya sekaligus.

03 September 2007

Dampak Kasus Penculikan Bagi Kegiatan Rohis

Kasus penculikan yang menimpa Raisyah beberapa waktu lalu, sedikit banyak turut menyinggung-nyinggung keberadaan rohis di sekolah-sekolah. Ada orangtua yang melarang anaknya ikut rohis, ada pula pihak sekolah yang terkesan mengetatkan peraturan terhadap aktivitas rohis. Menanggapi hal tersebuta, Mustafa Kamal, mantan aktivis Rohis yang kini menjadi anggota DPR mengaku prihatin dengan kenyataan ini.

Salah satu kabar yang sempat berhembus dalam kasus Raisayh adalah tudingan bahwa Rohis SMAN 35 Jakarta disusupi NII. Ini ditampik para alumnis rohis. Alumni Rohis SMAN 35 angkatan 1999 yang merupakan teman-teman Anggana, memastikan tidak ada doktrin jihad dalam ekskul mereka. Anggana dan Yogi Permana dinilai menculik Raisya karena masalah pribadi.

"Bisa saya pastikan Rohis pada zaman saya dan sekarang tidak ada doktrin-doktrin yang mengarah ke jihad, " kata Mali (26), alumni dan sahabat dekat Anggana. Dirinya yakin, penculikan Raisya ini karena persoalan pribadi dan kebetulan pelakunya anak rohis.

Untuk mengecek langsung ke lapangan, satu siang di awal September 2007, eramuslim menyambangi SMAN 35. Mushalla Miftahul Jannah yang merupakan markas anak-anak Rohis nampak lengang. "Biasanya pulang sekolah atau ba'da Ashar, baru rame, " kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Saryono.

Usai terbongkarnya kasus penculikan Raisyah Ali (5) yang melibatkan tiga siswa dan dua alumni SMA 35 ini, suasana sekolah sudah kembali normal. Aktivitas rohis berjalan seperti biasanya. "Pada hari ini, Jumat (30/8) kita akan mengadakan rapat persiapan Isra Mi'raj, " jelas Saryono.

Yogi Permana melakukan penculikan untuk menutupi utang ratusan juta karena bisnisnya ambruk, bersama temannya Anggana Harjakusumah yang juga alumni SMA 35 menculik Raisyah Ali, putri Ketua Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI), Ali Said.

Dengan menjanjikan Rp 50 juta per orang, aksi mereka pun dibantu tiga siswa 'binaan' di Rohis SMA 35. "Ini misi negara. " Begitulah keterangan yang diberikan Budi, siswa yang terlibat dalam penculikan, saat diperiksa polisi.

Satuan Kejahatan dengan Kekerasan Polda Metro Jaya sudah mencokok lima penculik Raisya Ali, satu demi satu sejak Kamis (23/8) malam.

Menurut seorang perwira reserse, penculik yang pertama kali tertangkap adalah Budi. Dia dibekuk di sebuah musholla di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, pukul 20. 00WIB. Yogi, yang sementara diduga mengotaki penculikan, di bekuk di sebuah pom bensin di Lenteng Agung, Depok, Jumat (24/8), sekitar pukul 09. 00 WIB. Sekitar pukul 10. 00 WIB, tersangka Yanuar Isman ditangkap di Petamburan, Jakarta. Kemudian Firmando dijemput di sekolah.

Lantas, adakah NII bermain di baliknya? "Tidak. Insya Allah kami bukan NII. Kami belajar tauhid, akidah dan akhlak keIslaman lainnya. Bagaimana bisa dibilang melawan pemerintah, " ujar Ningsih (16), siswi kelas 12 IPA yang aktif di Bidang Perpustakaan dan Pendidikan Rohis SMA 35.

Ningsih juga menyesalkan pemberitaan media yang menyudutkan Rohis sekolahnya. "Saya menyayangkan pemberitaan media terlalu berlebihan dan menyudutkan kita. Bahkan sampai mengkait-kaitkan kita dengan kelompok sesat itu. Kita nggak pernah mendoktrin yang macam-macam, " kata siswi yang juga aktif mengikuti pengajian di Masjid Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) ini.

Ningsih juga bersyukur, karena pihak sekolah cukup bijak menyikapi kejadian ini. "Awalnya kami pasrah. Kalaupun sekolah mau membekukan ya terserah saja. Tapi alhamdulillah, pihak sekolah cukup bijak menyikapinya, " lanjutnya.

Memang sempat beredar kabar, Rohis SMA 35 pernah dirembesi doktrin NII pada 1999. Di antara siswanya ada yang sempat mengikuti pengajian itu. Tapi, karena belum dibaiat , mereka belum dianggap anggota sehingga tidak sampai dikejar-kejar jaringan NII. "Kita semua nggak pernah ikut lagi pertemuan selanjutnya, " ujar Mali, alumni yang juga teman seangkatan Anggana.

Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan (Jatanras) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Metro Jaya, AKBP Muhammad Fadhil Imran menyatakan, tidak ada indikasi keterlibatan jaringan kejahatan berkedok NII di balik motif penculikan ini. "Alasan penculikan karena ekonomi, yaitu terlilit utang. Tidak ada kaitannya dengan kelompok lain, " ujarnya.

Saryono menjamin, kegiatan Rohis masih berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan dalam lembar pernyataan sikapnya, Pengurus OSIS SMA 35 menghimbau, agar teman-temannya tidak terpengaruh dan berburuk sangka pada organisasi yang bersangkutan.

Meski demikian, tak pelak, Penculikan yang melibatkan aktivis Rohis ini, ternyata berimbas pada aktivis Rohis lain. Beberapa sekolah dikabarkan mulai mengetatkan peraturan sebagai antisipasi agar sekolahnya tidak menjadi jaringan teroris. Apalagi yang kemarin kena kasus itu adalah ketua Rohisnya, Firmando. "Ini membuat semangat teman-teman nge- drop, " ujar Wahyu Setiadi, Ketua Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia (KAPMI) Wilayah Jakarta, yang juga siswa Kelas 12 SMK Telkom, Jakarta Barat.

Tak hanya sekolah yang mengetatkan peraturan, orang tua siswa pun ikut-ikutan melarang siswanya beraktivitas di Rohis. Berkaitan dengan ini, Mustafa Kamal menuntut kejelasan secara hukum atas kasus ini. Supaya jelas motifnya. Sehingga publik terhindar dari berita simpangsiur.

Menurut Mustafa Kamal, perlu konsolidasi untuk mendeteksi penyimpangan perilaku akibat beberapa faktor. Mulai dari pemahaman salah sampai penurunan semangat aktivis dakwah sehingga terjadi kasus seperti ini. "Saya yakin ini bukan merupakan perilaku umum tapi oknum dan bukan dari koordinasi dakwah di rohis, " katanya. (rz/emy)

Israel Tanamkan Modalnya di Nusa Tenggara Timur



Sejumlah Pejabat Israel Berbincang Untuk Kemajuan Penjajahanya


Infopalestina-Jakarta : Sikap sebagian besar rakyat Indonesia yang mendukung perjuangan Palestina untuk membebaskan dirinya dari penjajahan Israel, ternyata tidak diiringi oleh kalangan birokratnya. Terbukti mereka diam-diam sudah menjalin kerja sama ekonomi di bidang BBN dengan Israel di Nusa Tenggara Timur.

Padahal, baru saja para wakil bangsa ini menyatakan dukunganya terhadap pemerintahan Palestina pimpinan Ismael Haneya, ketika menerima kunjungan delegasi Palestian untuk Indonesia yang dipimpin oleh Musyir el-Misri kemarin Senin (3/9).

El-Misri mengakhiri kunjunganya di Indonesaia dalam program lawatanya ke nagera-negara Islam di kawasan Asia. Ia diterima ketua MPR Hidayat Nurwahid Ketua DPR Agung Laksono dan sejumlah pejabat lainya.

Dalam pada itu, El-Misri mengucapkan terima kasih atas sikap bangsa Indonesia yang pro terhadap kemerdekaan Palestina dan terus konsisten dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri itu dari tangan penjajah Israel.

Namun sayang sikap ini tidak diiringi oleh kalangan ekonom dan birokrasi di Indonesia yang ternyata diam-diam mengadakan kerja sama dengan Israel dalam segi Ekonomi.

Seperti dipaparkan Sekretaris Timnas BBN Evita Legowo usai seminar nasional Bahan Bakar Nabati di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Senin (3/9/2007) yang mengatakan, Israel sudah menyatakan minatnya untuk proyek-proyek terkait penambahan kapasitas kilang di Indonesia baik dengan modifikasi kilang yang ada atau membangun kilang baru.
Saat ini, ungkap Evita, industri hilir migas di Indonesia memang sudah lebih bebas dimasuki investor swasta. Meskipun demikian, kemungkinan Israel tetap akan menggandeng partner lokal.
Terkait pengembangan BBN, Israel sudah mulai mengembangkan jarak pagar di NusaTenggaraTimur. Proyek yang dikembangkan Israel ini mencakup sisi hulu sampai hilir, artinya akan mengembangkan pohon jarak dari penanaman sampai pengolahan, ungkap Evita lebih gamblang.

Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Israel sudah lama berbisnis di wilayah ini. Seperti dijelaskan Evita, "Mereka memang sudah punya pengalaman, saat ini sepertinya mereka sudah punya lahan di NusaTenggaraTimur.
Hasil dari pengembangan yang dikerjakan Israel ini bisa berupa biodiesel dan bio-oil yang bisa digunakan untuk transportasi dan pembangkit listrik. (detikfinance/asy)

02 September 2007

Apa Lagi yang Engkau Tuntut Wahai Wanita?

Kehancuran sebuah rumah tangga karena salah satu di antara suami atau
istri berbuat selingkuh, rasanya telah menjadi berita yang amat biasa.
Bukan hanya terjadi di kalangan selebritis, namun juga banyak terjadi di
rumah tangga sekitar kita. Fenomena ini merupakan secuil dari petaka yang
muncul karena wanita muslimah tergoda dengan slogan-slogan emansipasi.
Ibarat sebuah permata yang sangat berharga, ditempatkan di tempat yang
bagus, yang tak gampang terjamah. Itulah wanita dalam Islam. Bukan
sekedar omong kosong bila kita katakan bahwa wanita benar-benar
mendapatkan kemuliaannya dalam Islam. Pembicaraan tentang hal ini telah
kita lewati dalam edisi yang lalu. Namun sayangnya banyak orang yang
tidak mau menoleh kepada perlakuan istimewa dari agama yang mulia ini,
sehingga mereka menengok ke Barat, ingin beroleh konsep bagaimana
mengangkat harkat dan martabat wanita ala Barat.

Orang-orang seperti ini biasanya sudah tertular penyakit minder jadi
orang Islam. Atau lebih parahnya, fobi bahkan anti terhadap semua yang
berbau Islam namun kagum kepada semua yang datang dari Barat,
walaupun itu adalah kesesatan yang dipoles dengan bungkus warna-warni.
Timbullah kekaguman mereka kepada wanita-wanita di Barat yang bebas
berkeliaran mengejar karir di luar rumah sebagaimana lelaki. Berdiri sama
tinggi dan duduk sama rendah dengan lelaki. Diteriakkanlah kepada para
wanita agar meniru wanita-wanita Barat, hingga tampaklah akibatnya yang
mengerikan ketika gayung bersambut.

Dan hari ini maupun hari-hari sebelumnya, kita telah melihat hasil teriakan
tersebut…
Para wanita berseliweran di setiap tempat keramaian, di kantor, di
lapangan… Dan ini adalah pemandangan yang biasa setiap harinya. Para
wanita itu mengejar dunianya dengan menjunjung setinggi-tingginya slogan
emansipasi.

Kalau dulu, para lelaki baik itu ayah, kakek, suami, paman, ataupun saudara
laki-laki, demikian cemburu dengan wanitanya bila sampai terlihat oleh
lelaki yang bukan mahramnya, namun kita dapati pada hari ini, di zaman
kemajuan ini, rasa cemburu sudah ketinggalan kereta. Tak ada lagi tempat
untuknya, bukan zamannya lagi. Ayah, suami, paman dan saudara laki-laki
membukakan pintu rumah selebar-lebarnya bagi si wanita untuk
mengepakkan sayap kebebasan, menurut mereka.

Para lelaki tak lagi cemburu, sementara si wanita tak lagi memiliki rasa
malu. Lalu, diayunkannya langkahnya sampai melampaui pagar ‘istana’nya.
Selanjutnya dapat kita duga kerusakan apa yang bakal terjadi bila jalanjalan
dan tempat-tempat di luar rumah dipenuhi wanita, bercampur baur
dengan lelaki. Ini semua akibat kebodohan dan jauhnya mereka dari agama,
kemudian akibat termakan emansipasi.

Apa itu Emansipasi?

Kami tak bermaksud berbicara panjang lebar tentang emansipasi, karena
materi ini akan dibahas secara meluas di majalah kesayangan kita ini dalam
edisi-edisi mendatang, Insya Allah. Namun tidak mengapa, kami sedikit
menyentil permasalahan ini karena berkaitan dengan pembahasan kami di
rubrik ini dalam edisi yang telah lalu.

Kalau ada yang bertanya, apa itu emansipasi? Maka secara praktis kita
katakan bahwa yang dimaukan dengan emansipasi oleh para penyerunya
adalah upaya mempersamakan wanita dengan lelaki dalam segala bidang
kehidupan, baik secara intelektual maupun fisik.

Emansipasi dipandang sebagai kemajuan bagi kaum wanita, yang berarti
kebebasan bagi wanita untuk melakukan apa saja yang diinginkan dan
menjalani profesi apa saja. Bukan lagi pemandangan aneh bila kita dapati
seorang wanita menjadi sopir truk, kondektur, kuli bangunan, tukang
parkir, satpam…. Jangan heran bila wanita bisa menjadi perdana menteri,
pilot, jenderal bahkan presiden. Walhasil, kalau lelaki bisa unjuk otak dan
ototnya dalam segala lapangan penghidupan maka wanita pun dituntut
harus bisa dan harus diberi porsi yang sama. Kalau tidak seperti itu,
berarti merendahkan wanita dan menginjak hak asasinya!!! Demikian
lolongan mereka.

Sesuai atau tidak defenisi emansipasi yang disebutkan di sini dengan
defenisi palsu yang mereka –kaum feminis– berikan, tidaklah jadi soal.
Yang penting demikianlah kenyataan praktik emansipasi di masyarakat kita.
Wallahu a’lam.

Kapan Muncul Emansipasi?

Tidak terlalu penting untuk kita sebutkan di sini kapan gerakan emansipasi
ini muncul untuk pertama kalinya. Yang jelas, gerakan ini pertama kali
berbentuk slogan pendidikan akademis bagi kaum wanita. Slogan-slogan itu
pada awalnya nampak menarik karena mengusahakan peningkatan
kecerdasan dan pengetahuan kaum wanita, agar dapat melahirkan generasi
baru yang lebih cakap dan lebih berkualitas.

Tetapi, di kemudian hari setelah tercapainya tujuan pertama, gerakan ini
mulai melakukan tipu daya baru yang tentu saja dibungkus dengan katakata
indah nan menawan, yakni persamaan hak pria dan wanita secara
mutlak dan kebebasan karir wanita di segala bidang.

Dengan iming-iming yang menarik ini, tak pelak lagi banyak kaum hawa yang
tertipu dan terbawa arus gelombang emansipasi. Bahkan hembusan
emansipasi seolah angin sejuk bagi masa depan mereka.

Terlahir di negeri Eropa Barat, emanisipasi jelas mewakili pemikiran
bangsa yang sangat jauh dari tuntunan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala
ini. Bahkan mereka adalah budak-budak hawa nafsu, kesyirikan, dan
kekufuran. Kaum wanita dalam masyarakat penyembah salib tersebut sama
sekali tidak mendapatkan perlakuan yang semestinya. Mereka diibaratkan
barang yang dapat diperjualbelikan di pasaran, dianggap sebagai sampah
dan budak pemuas hawa nafsu.

Para pemuka agama mereka bahkan menyimpulkan bahwa wanita adalah
makhluk pembawa kejahatan, musuh keselamatan, penunggu neraka,
semata-mata dicipta untuk melayani lelaki, dianggap sejenis hewan yang
harus dipukul, dan merupakan tangan dari tangan-tangan setan. Dan masih
banyak lagi sebutan dan gelar-gelar jelek yang mereka berikan kepada
kaum wanita. Dalam kenyataan buruk seperti itulah dihembuskan ‘angin
segar’ emansipasi, agar wanita terlepas dari perbudakan dan perlakuan
buruk kaum lelaki. Agar wanita mendapatkan hak asasinya sebagai manusia
yang selama ini telah diinjak-injak oleh lelaki.

Bila demikian kenyataan yang melatarbelakangi lahirnya emansipasi, apakah
pantas wanita muslimah ikut-ikutan menjayakan gerakan ini sementara ia
telah dimuliakan dalam Islam, diberikan perlindungan dan kedudukan
mulia? Sungguh kebodohan telah meracuninya. Andai ia tahu kemuliaan
yang diberikan Islam padanya…. Kemuliaan yang membuat iri wanita-wanita
Barat !!!.

Racun Emansipasi

Propaganda yang laris manis ini banyak menebarkan racun di tengah
masyarakat. Kaum wanita berbondong-bondong menyerbu tiap bidang
kehidupan dan lapangan pekerjaan. Tak peduli apakah hal itu sesuai dengan
fitrahnya atau tidak. Akibatnya, jumlah pengangguran di kalangan lelaki
meningkat karena lapangan pekerjaannya telah direbut oleh wanita.
Dewasa ini tak jarang wanita memasuki bidang-bidang yang ‘berotot’, yang
tentunya standar yang dipakai adalah standar yang biasa berlaku pada
kaum lelaki, karena memang demikian kebutuhannya. Wanita yang masuk ke
bidang ini berarti harus menyesuaikan diri dengan standar yang ada,
sementara wanita diciptakan dengan struktur tubuh yang berbeda dengan
lelaki. Lalu pekerjaan apa yang dapat diselesaikannya dengan baik?
Sementara itu, di tempat kerjanya wanita tidak jarang menjadi korban
pelecehan -lisan maupun tindakan- dari lawan jenisnya, baik dari rekan
kerja ataupun atasannya. Nilai wanita jadi begitu rendah, tak lebih sebagai
obyek dari pandangan mata-mata nakal. Kehadirannya di tempat kerja tak
jarang hanya sebagai ‘penyegar’ suasana.

Kemerosotan akhlak terjadi di kalangan masyarakat dengan lepasnya
wanita dari rumahnya. Lelaki jadi terfitnah1 dengan bebasnya wanita
berkeliaran di sekitarnya. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah bersabda:
“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi lakilaki
daripada fitnah wanita.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Wanita dan lelaki bebas bercampur baur dalam satu tempat tanpa adanya
pemisah (ikhtilath). Padahal Islam telah melarang hal ini karena ikhtilath
merupakan pintu yang mengantarkan pada perbuatan keji dan mungkar,
mendekatkan pada perbuatan zina. Allah Subhanahu wa Ta’ala
memperingatkan:
“Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan keji dan suatu jalan yang amat buruk.” (Al-Isra`: 32)

Gejala lain yang kini terlihat di kalangan mereka yang menjadi korban
emansipasi adalah sepinya ikatan pernikahan. Wanita yang sibuk dengan
karirnya lebih suka hidup sendiri daripada harus terikat dengan tanggung
jawab mengurus suami, rumah dan anak. Terkadang si wanita lebih memilih
hidup bebas, dan bergaul dengan lelaki mana saja yang ia inginkan.
Na’udzubillah min dzalik (kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dari hal itu).

Tuntutan agar wanita meraih pendidikan formal yang tinggi ternyata
mengharuskan si wanita mempraktikkan ilmunya di lapangan, walau ia harus
meninggalkan suami, anak, dan rumahnya. Karena tuntutan ekonomi yang
semakin meningkat, semangat cinta kehidupan dunia berikut perhiasannya
semakin meninggi, akhirnya para wanita merasa harus bekerja di luar
rumah untuk menambah penghasilan keluarga. Timbullah dilema antara
mengurus rumah tangga dengan kepentingan pekerjaannya. Tak jarang
mereka menyisihkan urusan rumah tangga. “Bisa diserahkan kepada
pembantu,” kata mereka.

Saat ini, terlalu banyak kita dapati anak-anak yang dibesarkan oleh
pembantunya, sementara ibunya hanya menjadi pengawas dari jauh.
Berbagai masalah timbul karenanya. Anak-anak menjadi nakal karena
kurang perhatian. Mereka lari keluar rumah untuk mencari kompensasi,
mengais-ngais kasih sayang yang mungkin masih tersisa.

Rumah tangga terbengkalai, suami pun menyeleweng. Si wanita itu sendiri
mendapatkan godaan dari kawan sekerja yang lebih tampan menawan
daripada suami di rumah. Akibatnya si wanita pun terdorong untuk berbuat
serong. Dan akhirnya…. pernikahan berakhir dengan perceraian. Tinggallah
anak-anak sebagai korbannya.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan
tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari
akibat perbuatan mereka, agar mereka mau kembali ke jalan yang benar.”
(Ar-Rum: 41)

Sebenarnya terlalu banyak dampak emansipasi untuk disebutkan di sini.
Cukuplah apa yang telah kami sebutkan sebagai contoh. Yang perlu diingat
oleh setiap wanita, bahwa emansipasi sama sekali bukanlah solusi untuk
mendapatkan pengakuan masyarakat terhadap dirinya. Karena emansipasi
yang lebih dahulu telah diperjuangkan oleh wanita Barat hanya
menghasilkan penderitaan yang lebih parah bagi kaum wanita.
Setelah tercapai apa yang menjadi tujuan ternyata timbul akibat yang
buruk bagi individu, masyarakat dan generasi penerus. Dilanggarnya
tuntunan Islam tanpa rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala,
dicampakkannya hijab, dibuangnya rasa malu, lahirnya anak yang tak
diketahui siapa orang tuanya, perpecahan keluarga, mudahnya kawin cerai,
kebebasan hubungan lelaki dan wanita, dan sebagainya menjadikan
kehidupan para pelaku serta korban emansipasi dipenuhi stres dan depresi.
Wallahul musta’an.

Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari akibat yang
diperbuat oleh orang-orang yang jahil dan zalim di antara kita.
Bila sudah seperti ini keadaannya, tidak ada solusi yang lebih tepat kecuali
kembali kepada ajaran Islam yang benar. Kembali kepada tuntunan Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

Kembalilah engkau wahai wanita kepada fitrahmu! Lihatlah bagaimana
Islam telah memuliakanmu! Pegangilah apa yang diajarkan Nabimu, niscaya
kebahagiaan di dua negeri akan kau raih.

Wallahu a’lam.

Strategi Hidup Muslim di Akhir Zaman

Buku-buku bertema akhir zaman kini sedang booming.
Temanya mencakup: Dajjal, Armageddon, dan Zionisme.
Fenomena di atas merupakan fenomena global. Di Timur
Tengah dan juga Eropa serta Amerika, orang juga kini
gandrung pada tema akhir zaman. Nampaknya ini bukan
suatu kebetulan, meski perbantahan ada di antara masingmasing
penulis, tapi semua sepakat pada satu muara: Kita
hidup di akhir zaman.

Menurut Ust Abu Fatiah Al-Adnani, spesialis penulis buku-buku tentang akhir zaman,
pada prinsipnya pada buku-buku itu di sana ada kebaikan walau tak tertutup ada
kesalahan. "Saya yang termasuk agak terinspirasi dengan buku-buku seperti itu. Kita
perlu meluruskan mana yang perlu dikonsumsi dan mana yang mendapat catatan.
Terutama hadits-hadits dhoif yang hampir semuanya dijadikan rujukan, " katanya
ketika ditanya eramuslim. Com seusai roadshow bedah buku “Kaki Tangan Dajjal
Mencengkeram Indonesia” (26/8) Masjid Al-Amin Secang, Magelang, Jawa Tengah.
Fitnah Dajjal memang luar biasa, sebagaimana Rasul saw mengabarkan:
"Sesungguhnya sebelum terjadinya hari kiamat, akan timbul berbagai fitnah
bagaikan sepotong malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seseorang masih
beriman, tetapi pada sore harinya telah menjadi kafir. Pada sore harinya beriman,
tetapi pada pagi harinya telah kafir. Pada saat itu orang yang duduk lebih baik
daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, dan yang berjalan
lebih baik dari yang berlari. Karena itu pecahkanlah kekerasanmu, potonglah tali
busurmu dan pukulkanlah pedangmu ke batu (yakni jangan kamu gunakan untuk
memukul dan membunuh manusia). Jika salah seorang di antara kamu terlibat dalam
urusan (fitnah) itu, maka hendaklah ia bersikap seperti sikap terbaik dari dua orang
putra Adam (yakni bersikap seperti Habil, jangan seperti Qabil). " Musnad Ahmad
4:408 hadits ini juga dishahihkan oleh Al-Bani dalam Shahih Al-jamius Shagir 2:193
hadit nomor 2045.

Orang yang duduk lebih baik dari yang berdiri, Menurut Abu Fatiah Al-Adnani,
mereka yang semakin sedikit itu lebih aman. Dirinya mengambil contoh sekarang saja
ketika kalau keluar rumah kemaksiatan mengepung. Jangankan keluar rumah, di
dalam rumah saja begitu kita menyetel tv, iman kota bisa rontok. "Orang yang tinggal
di rumahnya yang terletak pegunungan sehingga jauh dari keramaian, fitnahnya relatif
jauh lebih sedikit, " jelasnya.

Pun ketika Rasul ditanya, manusia mana yang terbaik. Rasulullah saw menjawab,
Muminun yujahidu binafsihi wa maalihi . Orang mukmin yang berjihad dengan harta
dan jiwanya. Kemudian siapa lagi? Yakni, orang mukmin yang tinggal di puncakpuncak
gunung, yang dia meninggalkan manusia, kemudian dia konsentrasi ibadah
kepada Allah. Jadi manusia terbaik di akhir zaman cuma dua. Kalau dia punya
kemampuan bergaul dengan manusia dia punya kemampuan amar makruf nahy
munkar, silakan mencampur. Tapi, kalau tidak kuat, silakan ke puncak gunung.
Karena kalau juru dakwah beruzlah, itu bahaya. Tapi, kalau cuma sipil, rakyat biasa,
maka jangan tinggal di tempat-tempat yang mengundang fitnah. Resikonya lebih
besar.

Dirinya menyarankan, kalau kita tidak punya kemampuan sedangkan resikonya terlalu
besar, lebih baik pulang kampung. Daripada di perkotaan tapi rezekinya tidak halal.
Tanya saja kepada mereka yang terlibat prostitusi, "Mas sudah kadung basah, di
rumah juga siapa yang menghargai. Saya sudah terlanjur hitam, " itukan jawabannya.
Bagaimana solusinya. Menurut Abu Fatiah Al-Adnani, jika berbicara tentang dajjal,
baik itu secara fisik, maupun fitnah, Rasul memberikan rambu-rambu:
Pertama, Rajin membaca doa setiap kali shalat. Yang lebih penting dengan memaknai
doa tersebut. Allahuma inni a'udzubika min adzabi jahannama wa min adzabi qabri
wa min fitnatil mahyaa wa mamaati wa min syarri fitnatil masiihid dajjal. (Shahih
Muslim)

Kedua, siapa yang membaca 10 ayat pertama surat Al-Kahfi, dia akan diselamatkan
dari Dajjal. Kita disunnahkan untuk membaca surat Kahfi setiap malam Jumat. Yang
biasa Yaasinan boleh diganti. Karena dalilnya jelas. Kalau seseorang membaca surat
Kahfi setiap malam Jumat, maka Allah akan sinari dia dengan cahaya. Kalau kita
hafal maka enak, tidak perlu buka Al-Qur'an lagi. Ada yang menyebut 10 ayat
pertama ada yang menyebut 10 ayat terakhir. Tapi yang terkuat adalah sepuluh ayat
yang pertama. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.

Ketiga, Kalau sanggup, pindah ke kota Madinah. Karena di sana nanti akan menjadi
pusat keimanan. Kalau tidak, kata Rasul saw—lari ke gunung-gunung. Maknanya ada
dua, satu, gunung betulan, karena jauh dari perkotaan. Yang relatif jauh dari fitnah.
Kedua, kita adakan sistem masyarakat, kita bikin semacam Islamic Village. Satu
kompleks muslim semua, shalat semua. Jadi masyarakat umum, gaya hidupnya
pesantren, suasananya Islami. Anak-anak dan isterinya terjaga dari fitnah. Dengan
begitu kita berharap anak-anak kita akan lebih terjaga.

Keempat, kalau semua usaha sudah dicoba, ternyata dikejar-kejar Dajjal juga. Sudah
baca doa masih kena, lari ke gunung masih dikejar, sudah hafal surat kahfi, masih
tidak mempan. Dajjal menawarkan air dari sungainya dan disodorkan kepada kita
apinya dengan nyata, maka Rasul saw mengajarkan. Tutuplah kedua matamu dan
masuklah ke apinya dajjal, sesungguhnya apinya dajjal itu akan dingin. Sedangkan
sungainya justru neraka yang membakar.

Tapi, kita sekarang ini sudah terkena budaya materialisme, apa yang kita lihat tentulah
yang kita yakini. Kita tidak bisa meyakini apa sesungguhnya di belakang api itu. Kita
melihat api itu panas, tapi kalau nekat akan dingin. Ini beberapa solusi yang diberikan
oleh Rasulullah saw. ( Disadur dari www.eramuslim.com )

31 Agustus 2007

hari-hari yg melelahkan

Saat ini hari Jum'at

Seperti halnya kemarin, pagi hari saya berangkat dari rumah menuju kantor. Siang shamais (Shalat-Makan-Istirahat) kalo hari Jum'at
atau maissha (Makan-Istirahat-Shalat) kalo hari Senin sampe Kamis. Sore shais (Shalat-Istirahat).Trus menjelang Maghrib pulang ke rumah deh. Abis itu ketemu anak isteri yg amat menyenangkan, and akhirnya istirahat tidur yg nyenyak.

Udah..., gitu aja kegiatan hariannya.

Be te ngga sih?...?...?

29 Agustus 2007

Imam Bukhari

Beliau dilahirkan pada bulan syawal tahun 194 H di negeri bukhara, yang sekarang di kenal sebagai bagian dari negeri soviet. Beliau adalah seorang yang sangat alim di bidang hadits. Beliau menyusun sebuah kitab yang kesahihannya telah disepakati oleh umat islam dari jaman dahulu hingga sekarang.

Imam bukhari pernah ditanya oleh seseorang:' Bagaimana mulanya engkau berkecimpung dalam bidang hadits ini? Maka beliau mengatakan : saya diilhami untuk menghafal hadits ketika saya bersama dengan para penulis hadits. Berapa usiamu pada waktu itu? Dia menjawab 10 tahun, atau kurang. Saya lalu keluar dari kelompok para penulis itu dan selanjutnya saya selau menemani ad dakhili dan ulama lainnya. Ketika saya telah berkecimpung di bidang ini saya telah hafal ibnul mubarak dan waqi'. Saya lalu pergi ke Mekkah bersama ibu dan saudaraku , sesudah selesai berhaji , saudaraku lalu mengantarkan ibuku pulang, sedangkan saya memperdalam dan mematangkan diri dalam bidang hadits.

Imam bukahari selanjutnya berkelana ke berbagai daerah seperit nisabur, baghdad, bashrah, kufah, mekkah, madinah, syam dan mesir untuk mendapatkan hadits dari sejumlah ulama.

Beliau menulis kitabnya yang bernama tarikh di masjid nabawi, sejumlah buku yang memuat nama-nama rijal ( Orang).

Imam bukhari pada waktu kecil pernah mendatangi para ulama yang sedang bersama para muridnya, karena beliau masih kecil beliau malu memberi salam pada mereka. Suatu ketika beliau ditanya oleh seorang alim: berapa hadits yang sudah kau tulis hari ini? Imam bukhari menjawab: Dua" orang-orang yang ada di sekitarnya mentertawakannya. Alim itu pun berkata" kalian jangan mentertawakannya, boleh jadi suatu hari kalian akan ditertawakannya.

Beliau berkata: suatu kali saya bersama ishak ibnu rahawaih, lalu ada sejumlah temanku yang berkata kepadaku " alangkah baiknya kalau sekiranya engkau kumpulkan sunnah nabi sholallohu alaihi wasalam dalam sebuh kitab yang singkat. Hal tersebut mengena dalam hatiku , maka saya mulai mengumpulkannya dalam kitab ini (Kitab sahih Bukhari).

Beliau berkata : kitab ini saya pilihkan dari 600 ribu hadits. beliau juga berkata : tidaklah aku tulis satu hadits dalam kitab ini kecuali saya wudlu/mandi dan sholat dua rekaat.

Imam bukari berkata: saya menulis hadits dari 1000 orang alim atau lebih. Tidak ada satu pun hadits yang ada padaku kecuali kusebutkan isnadnya.

Imam bukhari meninggal pada tahun 256 H pada malam hari raya idhul fitri pada usia 62 tahun. Kubur beliau terletak di bikharnatk dekat dengan samarkand.

Imam Ahmad bin Hanbal

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Asy Syaibani. Beliau lahir di kota Baghdad pada bulan rabi'ul Awwal tahun 164 H (780 M), pada masa Khalifah Muhammad al Mahdi dari Bani abbasiyyah ke III. Nasab beliau yaitu Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asas bin Idris bin Abdullah bin Hajyan bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzahal Tsa'labah bin akabah bin Sha'ab bin Ali bin bakar bin Muhammad bin Wail bin Qasith bin Afshy bin Damy bin Jadlah bin Asad bin Rabi'ah bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan. Jadi beliau serumpun dengan Nabi karena yang menurunkan Nabi adalah Muzhar bin Nizar.Menurut sejarah beliau lebih dikenal dengan Ibnu Hanbal (nisbah bagi kakeknya).

Dan setelah mempunyai beberapa orang putra yang diantaranya bernama Abdullah, beliau lebih sering dipanggil Abu Abdullah. Akan tetapi, berkenaan dengan madzabnya, maka kaum muslimin lebih menyebutnya sebagai madzab Hanbali dan sama sekali tidak menisbahkannya dengan kunyah tersebut.

Sejak kecil, Imam Ahmad kendati dalam keadaan yatim dan miskin, namun berkat bimbingan ibunya yang shalihah beliau mampu menjadi manusia yang teramat cinta pada ilmu, kebaikan dan kebenaran. Dalam suasana serba kekurangan, tekad beliau dalam menuntut ilmu tidak pernah berkurang. Bahkan sekalipun beliau sudah menjadi imam, pekerjaan menuntut ilmu dan mendatangi guru-guru yang lebih alim tidak pernah berhenti. Melihat hal tersebut, ada orang bertanya, Sampai kapan engkau berhenti dari mencari ilmu, padahal engkau sekarang sudah mencapai kedudukan yang tinggi dan telah pula menjadi imam bagi kaum muslimin ? Maka beliau menjawab, Beserta tinta sampai liang lahat.

Beliau menuntut ilmu dari banyak guru yang terkenal dan ahli di bidangnya. Misalnya dari kalangan ahli hadits adalah Yahya bin Sa'id al Qathan, Abdurrahman bin Mahdi, Yazid bin Harun, sufyan bin Uyainah dan Abu Dawud ath Thayalisi. Dari kalangan ahli fiqh adalah Waki' bin Jarah, Muhammad bin Idris asy Syafi'i dan Abu Yusuf (sahabat Abu Hanifah ) dll. dalam ilmu hadits, beliau mampu menghafal sejuta hadits bersama sanad dan hal ikhwal perawinya.

Meskipun Imam Ahmad seorang yang kekurangan, namun beliau sangat memelihara kehormatan dirinya. Bahkan dalam keadaan tersebut, beliau senantiasa berusaha menolong dan tangannya selalu di atas. Beliau tidak pernah gusar hatinya untuk mendermakan sesuatu yang dimiliki satu-satunya pada hari itu. Disamping itu, beliau terkenal sebagai seorang yang zuhud dn wara''. Bersih hatinya dari segala macam pengaruh kebendaan serta menyibukkan diri dengan dzikir dan membaca Al Qur'an atau menghabiskn seluruh usianya untuk membersihkan agama dan mengikisnya dari kotoran-kotoran bid'ah dan pikiran-pikiran yang sesat.

Salah satu karya besar beliau adalah Al Musnad yang memuat empat puluh ribu hadits. Disamping beliau mengatakannya sebagai kumpulan hadits-hadits shahih dan layak dijadikan hujjah, karya tersebut juga mendapat pengakuan yang hebat dari para ahli hadits. Selain al Musnad karya beliau yang lain adalah : Tafsir al Qur'an, An Nasikh wa al Mansukh, Al Muqaddam wa Al Muakhar fi al Qur'an, Jawabat al Qur'an, At Tarih, Al Manasik Al Kabir, Al Manasik Ash Shaghir, Tha'atu Rasul, Al 'Ilal, Al Wara' dan Ash Shalah.

Ujian dan tantangan yang dihadapi Imam Ahmad adalah hempasan badai filsafat atau paham-paham Mu''tazilah yang sudah merasuk di kalangan penguasa, tepatnya di masa al Makmun dengan idenya atas kemakhlukan al Qur'an. Sekalipun Imam Ahmad sadar akan bahaya yang segera menimpanya, namun beliau tetap gigih mempertahankan pendirian dan mematahkan hujjah kaum Mu'tazilah serta mengingatkan akan bahaya filsafat terhadap kemurnian agama. Beliau berkata tegas pada sultan bahwa al Qur'an bukanlah makhluk, sehingga beliau diseret ke penjara. Beliau berada di penjara selama tiga periode kekhlifahan yaitu al Makmun, al Mu'tashim dan terakhir al Watsiq. Setelah al Watsiq tiada, diganti oleh al Mutawakkil yang arif dan bijaksana dan Imam Ahmad pun dibebaskan.

Imam Ahmad lama mendekam dalam penjara dan dikucilkan dari masyarakat, namun berkat keteguhan dan kesabarannya selain mendapat penghargaan dari sultan juga memperoleh keharuman atas namanya. Ajarannya makin banyak diikuti orang dan madzabnya tersebar di seputar Irak dan Syam. Tidak lama kemudian beliau meninggal karena rasa sakit dan luka yang dibawanya dari penjara semakin parah dan memburuk. Beliau wafat pada 12 Rabi'ul Awwal 241 H (855). Pada hari itu tidak kurang dari 130.000 Muslimin yang hendak menshalatkannya dan 10.000 orang Yahudi dan Nashrani yang masuk Islam. Menurut sejarah belum pernah terjadi jenazah dishalatkan orang sebanyak itu kecuali Ibnu Taimiyah dan Ahmad bin Hanbal. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat atas keduanya. Amin.

Imam Ath-Thahawi

Beliau adalah seorang imam pakar penghafal hadits. Nama beliau, Abu Ja'far Ahmad bin Muhammad bin Salaamah bin Salaamah bin Abdil Malik Al-Adzi Al-Hajari Al-Mishri Ath-Thahawi Al-Hanafi. Beliau dilahirkan di Buthha, sebuah desa di negeri Mesir, yang sekarang ini masuk wilayah muhafazah (setingkat kabupaten) al-Meniya. Belai dilahirkan pada tahun 239 H, ada juga yang mengatakan 237 H. dibesarkan dirumah kediaman yang penuh ilmu dan keutamaan. Ayah belai adalah seorang ulama. Sedangkan pamannya, Al-Imam Al-Muzanni, sahabat Al-Imam Asy-Syafi'I yang membantu menyebarluaskan ilmu beliau.

Al-Imam ath-Thahawi belajar pada pamannya sendiri Al-Muzanni dan mendengar periwayatan pamannya dari Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah. Tatkala beliau menginjak usia 20 tahun, beliau meninggalkan madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i, dan beralih ke madzhab Al-Imam Abu Hanifah.

Diantara guru-guru beliau selain pamannya, Al-Muzanni, juga Al-Qadhi Abu Ja'far Ahmad bin Imran Al-Baghdadi, Al-Qadhi Abu Khazim Abdul Hamid bin Abdul 'Aziz al-Baghdadi, Yunus bin Abdul 'Ala Al-Mishri dan lain-lain.

Diantara murid-murid beliau: Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Manshur, Ahmad bin Al-Qasim bin Abdillah Al-Baghdadi yang dikenal dengan Ibnul Khasysyab Al-Hafizh, Abul Hasan Ali bin Ahmad Ath-Thahawi dan lain-lain.

Al-Imam Ath-Thahawi adalah orang berilmu yang memiliki keutamaan. Beliau menguasai sekaligus Ilmu Fikih dan Hadits, serta cabang-cabang keilmuan lainnya. Baliau menjadi wakil dari Al-Qadhi Abu Abdillah Muhammad bin 'Abdah, seorang qadhi di Mesir.

Ibnu Yunus memberi pernyataan tentang beliau: Beliau orang yang bagus hafalannya dan terpercaya, alim, jenius dan tak ada yang menggantikan beliau. Ibnul Jauzi dalam Al-Muntazham menyatakan: seorang penghafal yang terpercaya, bagus pemahamannya, alim dan jenius. Ibnu Katsir juga menyatakan dalam Al-Bidayah wa Nihayah :Beliau adalah seorang penghafal yang terpercaya sekaligus pakar penghafal hadits.

Pada Awal bulan Dzul-Qa'idah dalam usia delapan puluh tahun lebih, beliau wafat. Tepatnya pada tahun 321 H.

(Dikutip dari Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, Penerbit Darus Shahabah Lith-Thiba'ah wan Nasyr, Bairut, Libanon)

Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah

Beliau adalah Syamsuddin Abu 'Abdillah Muhammad bin Abubakar bin Ayyub bin Su'ad bin Hariz az-Zar'i ad-Dimasyqi, dikenal dengan sebutan Ibnul Qoyyim. Beliau adalah ahli fiqih bermazhab Hanbali. Beliau juga seorang ahli Tafsir, ahli hadits, penghafal Al-Quran, ahli ilmu nahwu, ahli ushul, ahli ilmu kalam, sekaligus seorang mujtahid. Beliau adalah salah seorang murid seorang imam dan mujtahid, Syaikhul-Islam Taqiyuddin Ahmad ibn Taymiyyah al-Harani ad-Dimasyqi yang wafat tahun 728 H.

Ibn Rajab menuturkan bahwa Ibnul-Qoyyim al-Jauziyyah telah menerima pengeyahuan dari asy-Syihab an-Nabulsi dan juga dari yang lainnya. Ia juga telah menekuni nazhabnya, cakap dan mampu memberikan fatwa. Ia senantiasa menyertai Ibn Taymiyyah sekaligus mengambil ilmu dari beliau. dan menguasai ilmu-ilmu Islam. Ia adalah seorang ahli tafsir yang tiada bandingnya dan sekaligus ahli ilmu ushuluddin. Ia menguasai ilmu hadits berikut makna-maknanya, pemahamannya serta dasar-dasar pengambilan hukum darinya.

Selain itu ia menguasai pula ilmu fiqih, ushul fiqih dan bahasa arab, di samping mahir dalam bidang menulis. Ia pun menguasai ilmu kalam dan ilmu-ilmu lainnya. Ia juga seorang alim dalam hal ilmu suluk dan menguasai wacana ahli tasawuf dan tidak menolak sama sekali tasawuf. Kuatnya kesadaran akan perjalanannya ke alam kubur memotivasinya untuk menyebarkan ilmunya.

Selain itu Imam Ibnul-Qoyyim juga seorang ahli ibadah dan senantiasa menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkannya. Ia mengalami beberapa kali ujian penjara bersama Syaikh Ibn Taymiyyah. Dalam kesempatan terakhir, ia berada di penjara sendirian dan baru dilepaskan setelah syaik Ibn Taymiyyah meninggal. Ia menunaikan haji beberapa kali. Orang-orang banyak mengambil ilmu dan memperoleh manfaat darinya.

Sementara itu, Burhanuddin Az-Zar'i mengatakan bahwa tidak ada di bawah ufuk bumi ini yang lebih luas ilmunya daripada Ibnul-Qoyyim . Dia telah menulis dengan tangannya karya-karya yang tak dapat digambarkan dan menyusun sejumlah karangan yang banyak sekali tentang berbagai ilmu.

Ibnul-Qoyyim meninggal dunia pada waktu isya' tanggal 18 Rajab 751 H. Ia dishalatkan di Mesjid Jami' Al-Umawi dan setelah itu di Masjid Jami' Jarrah; kemudian dikuburkan di Pekuburan Babush Shagir.